3.1 Pertimbangan Pengembalian Terhadap Modal
Pengertian Struktur Modal
Pada dasarnya
tugas manajer keuangan perusahaan adalah berusaha mencari keseimbangan
finansial neraca yang dibutuhkan serta mencari susunan kualitatif neraca
tersebut dengan sebaik-baiknya. “Pemilihan susunan kualitatif pada sisi assets
akan menentukan struktur kekayaan perusahaan, sedangkan pemilihan susunan
kualitatif dari sisi liabilities dan equities akan menentukan struktur
keuangan dan struktur modal perusahaan” (Riyanto, 1984, p.4). Wasis (1981)
menyatakan bahwa struktur modal harus dapat dibedakan dengan struktur keuangan.
Struktur keuangan menyatakan dengan cara bagaimana harta perusahaan dibiayai.
Oleh karena itu struktur keuangan adalah keseluruhan yang terdapat di dalam
neraca sebelah kredit. Pada neraca sebelah kredit terdapat hutang jangka panjang
maupun jangka pendek, dan modal sendiri baik jangka panjang maupun jangka
pendek. Jadi struktur keuangan mencakup semua pembelanjaan baik jangka panjang
maupun jangka pendek. Sebaliknya struktur modal hanya menyangkut pembelanjaan
jangka panjang saja. Tidak termasuk pembelanjaan jangka pendek.
Weston dan
Copeland (1992) memberikan definisi struktur modal sebagai pembiayaan permanen
yang terdiri dari hutang jangka panjang, saham preferen, dan modal pemegang
saham. Nilai buku dari modal pemegang saham terdiri dari saham biasa, modal
disetor atau surplus modal dan akumulasi laba ditahan. Bila perusahaan memiliki
saham preferen, maka saham tersebut akan ditambahkan pada modal pemegang saham.
Menurut
Lawrence, Gitman (2000, p.488), definisi struktur modal adalah sebagai berikut:
”Capital Structure is the mix of long
term debt and equity maintained by the firm”. Struktur modal perusahaan
menggambarkan perbandingan antara hutang jangka panjang dan modal sendiri yang
digunakan oleh perusahaan. Ada dua macam tipe modal menurut Lawrence, Gitman
(2000) yaitu modal hutang (debt capital)
dan modal sendiri (equity capital).
Tetapi dalam kaitannya dengan struktur modal, jenis modal hutang yang
diperhitungkan hanya hutang jangka panjang.
Komponen Struktur Modal
1. Hutang Jangka Panjang
Jumlah hutang
di dalam neraca akan menunjukkan besarnya modal pinjaman yang digunakan dalam
operasi perusahaan. Modal pinjaman ini dapat berupa hutang jangka pendek maupun
hutang jangka panjang, tetapi pada umumnya pinjaman jangka panjang jauh lebih
besar dibandingkan dengan hutang jangka pendek.
Menurut
Sundjaja dan Barlian (2003, p.324), “hutang jangka panjang merupakan salah satu
dari bentuk pembiayaan jangka panjang yang memiliki jatuh tempo lebih dari satu
tahun, biasanya 5 – 20 tahun”. Pinjaman hutang jangka panjang dapat berupa
pinjaman berjangka (pinjaman yang digunakan untuk membiayai kebutuhan modal
kerja permanen, untuk melunasi hutang lain, atau membeli mesin dan peralatan)
dan penerbitan obligasi (hutang yang diperoleh melalui penjualan surat-surat
obligasi, dalam surat obligasi ditentukan nilai nominal, bunga per tahun, dan
jangka waktu pelunasan obligasi tersebut).
Mengukur
besarnya aktiva perusahaan yang dibiayai oleh kreditur (debt ratio) dilakukan
dengan cara membagi total hutang jangka panjang dengan total asset. Semakin
tinggi debt ratio, semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan di dalam
menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan
manajemen sehingga memilih untuk menggunakan hutang menurut Sundjaja at. al
(2003) adalah sebagai berikut:
- Biaya hutang terbatas, walaupun perusahaan memperoleh laba besar, jumlah bunga yang dibayarkan besarnya tetap.
- Hasil yang diharapkan lebih rendah daripada saham biasa
- Tidak ada perubahan pengendalian atas perusahaan bila pembiayaan memakai hutang.
- Pembayaran bunga merupakan beban biaya yang dapat mengurangi pajak
- Fleksibilitas dalam struktur keuangan dapat dicapai dengan memasukkan peraturan penebusan dalam perjanjian obligasi.
Kreditur
(investor) lebih memilih menanamkan investasi dalam bentuk hutang jangka
panjang karena beberapa pertimbangan. Menurut Sundjaja at. al (2003), pemilihan
investasi dalam bentuk hutang jangka panjang dari sisi investor didasarkan pada
beberapa hal berikut:
- Hutang dapat memberikan prioritas baik dalam hal pendapatan maupun likuidasi kepada pemegangnya.
- Mempunyai saat jatuh tempo yang pasti.
- Dilindungi oleh isi perjanjian hutang jangka panjang (dari segi resiko).
- Pemegang memperoleh pengembalian yang tetap (kecuali pendapatan obligasi).
2. Modal Sendiri
Menurut Wasis
(1981), dalam struktur modal konservatif, susunan modal menitikberatkan pada
modal sendiri karena pertimbangan bahwa penggunaan hutang dalam pembiayaan
perusahaan mengandung resiko yang lebih besar dibandingkan dengan penggunaan
modal sendiri. Menurut Sundjaja at al. (2003, p.324), “modal sendiri/equity capital adalah dana jangka
panjang perusahaan yang disediakan oleh pemilik perusahaan (pemegang saham),
yang terdiri dari berbagai jenis saham (saham preferen dan saham biasa) serta
laba ditahan”.
Pendanaan
dengan modal sendiri akan menimbulkan opportunity
cost. Keuntungan dari memiliki saham perusahaan bagi pemilik adalah kontrol
terhadap perusahaan. Namun, return
yang dihasilkan dari saham tidak pasti dan pemegang saham adalah pihak pertama
yang menanggung resiko perusahaan. Modal sendiri atau ekuitas merupakan modal
jangka panjang yang diperoleh dari pemilik perusahaan atau pemegang saham.
Modal sendiri diharapkan tetap berada dalam perusahaan untuk jangka waktu yang
tidak terbatas sedangkan modal pinjaman memiliki jatuh tempo. Ada 2 (dua)
sumber utama dari modal sendiri yaitu:
a) Modal saham preferen
Saham preferen
memberikan para pemegang sahamnya beberapa hak istimewa yang menjadikannya
lebih senior atau lebih diprioritaskan daripada pemegang saham biasa. Oleh
karena itu, perusahaan tidak memberikan saham preferen dalam jumlah yang
banyak. Beberapa keuntungan penggunaan saham preferen bagi manajemen menurut
Sundjaja at. al (2003) adalah sebagai berikut:
1. Mempunyai kemampuan untuk
meningkatkan pengaruh keuangan.
2. Fleksibel karena saham
preferen memperbolehkan penerbit untuk tetap pada posisi menunda tanpa
mengambil resiko untuk memaksakan jika usaha sedang lesu yaitu dengan tidak
membagikan bunga atau membayar pokoknya.
3. Dapat digunakan dalam
restrukturisasi perusahaan, merger, pembelian saham oleh perusahaan dengan
pembayaran melalui hutang baru dan divestasi.
b) Modal saham biasa
Pemilik
perusahaan adalah pemegang saham biasa yang menginvestasikan uangnya dengan
harapan mendapat pengembalian dimasa yang akan datang. Pemegang saham biasa
kadang-kadang disebut pemilik residual sebab mereka hanya menerima sisa setelah
seluruh tuntutan atas pendapatan dan asset telah dipenuhi. Ada beberapa
keunggulan pembiayaan dengan saham biasa bagi kepentingan manajemen
(perusahaan), menurut Sundjaja at. al (2003), yaitu :
- Saham biasa tidak memberi dividen tetap. Jika perusahaan dapat memperoleh laba, pemegang saham biasa akan memperoleh dividen. Tetapi berlawanan dengan bunga obligasi yang sifatnya tetap (merupakan biaya tetap bagi perusahaan), perusahaan tidak diharuskan oleh hukum untuk selalu membayar dividen kepada para pemegang saham biasa.
- Saham biasa tidak memiliki tanggal jatuh tempo.
- Karena saham biasa menyediakan landasan penyangga atas rugi yang diderita para kreditornya, maka penjualan saham biasa akan meningkatkan kredibilitas perusahaan.
- Saham biasa dapat, pada saat-saat tertentu, dijual lebih mudah dibandingkan bentuk hutang lainnya. Saham biasa mempunyai daya tarik tersendiri bagi kelompok-kelompok investor tertentu karena (a) dapat memberi pengembalian yang lebih tinggi dibanding bentuk hutang lain atau saham preferen; dan (b) mewakili kepemilikan perusahaan, saham biasa menyediakan para investor benteng proteksi terhadap inflasi secara lebih baik dibanding saham preferen atau obligasi. Umumnya, saham biasa meningkat nilainya jika nilai aktiva riil juga meningkat selama periode inflasi.
- Pengembalian yang diperoleh dalam saham biasa dalam bentuk keuntungan modal merupakan obyek tarif pajak penghasilan yang rendah. (Weston & Copeland) Menurut Wasis (1981, p.81), “pemilik yang menyetorkan modal akan menjadi penanggung resiko yang pertama. Artinya bahwa pihak non-pemilik tidak akan menderita kerugian sebelum kewajiban dari pemilik ditunaikan seluruhnya.
Kerugian perusahaan pertama-tama
harus dibebankan kepada pemilik. Dari segi investor (Sundjaja, 2003),
keuntungan menggunakan saham (modal sendiri) adalah sebagai berikut:
1. Memiliki hak suara (hak
kendali) dalam perusahaan.
2. Tidak ada jatuh tempo.
3. Karena menanggung resiko yang
lebih besar, maka kompensasi bagi pemegang modal sendiri lebih tinggi dibanding
dengan pemegang modal pinjaman.
3.2 Asal Mula Bunga
Sebelum orang
mengenal uang, mereka selalu menggunakan sistem barter. Sistem ini memang cukup
efektif dan berperan penting di dalam kehidupan masyarakat. Barang yang ditukar
dapat diganti dengan barang yang diinginkan. Setelah sekian lama, muncul masalah
baru dari sistem barter yaitu orang yang ingin membeli barang tertentu tidak
bisa ditukar dengan barang miliknya. Menukar 15 ekor ayam memang bisa ditukar
dengan 1 gerobak. bagaimana jika kita ingin menukar 4 ekor ayam? Apakah akan
ditukar dengan seperempat gerobak? hal itu tidak mungkin.
Masalah
tersebut mulai difikirkan oleh salah seseorang yang kelak akan mengubah sistem
barter menjadi sistem kurs uang yang terjadi seperti sekarang ini. Sebut saja
Tuan X. Tuan X adalah seorang pengrajin emas yang mana mereka senantiasa
melakukan penambangan emas sebagai penghasilan utama.
Melihat
kejadian yang dilakukan penduduk dari sistem barter, akhirnya Tuan X memiliki
rencana untuk membuat kebijakan baru. Seluruh lapisan masyarakat diberi
undangan untuk hadir dilapangan besar. Para menteri, pejabat pemerintahan,
hingga rakyat jelata datang menghadiri udangan Tuan X yang akan memberikan
arahan mengenai sistem kurs uang ini.
“Sistem barter
telah memberikan kelemahan dalam model transaksi saat ini. Anda semua yang
hadir mengetahui betapa sulitnya menukarkan benda kecil dengan benda yang
terlalu besar sehingga harus menunggu waktu mengumpulkan benda-benda tersebut
supaya nilainya sama. Saya punya sistem baru yang akan merubah tukar-menukar
benda menjadi lebih efektif yang disebut alat tukar Emas”. Tuan X melanjutkan,
“Semua orang tahu, Emas sulit di dapat, dan keberadaan pada alam tidak
berlimpah yang menjadikan nilai emas selalu naik”.
Pada akhirnya
orang-orang setuju alat tukar diganti menggunakan emas. Semua orang bangga dan
senang sekali dengan adanya alat tukar emas ini, orang-orang dapat membeli dan
menjual apapun tanpa terpatok dari ukuran dan barang yang ingin ditukarkan.
Tuan X berkata “Uang Emas ini akan dibuat unik dan berbeda yang tidak bisa
dijiplak atau ditiru oleh orang lain, sehingga hanya uang emas inilah yang
benar-benar dapat dimanfaatkan untuk ditukarkan dengan barang. Setiap uang yang
saya pinjamkan harus dikembalikan pada tahun depan beserta tambahan 5% sebagai
hasil jerih payah saya dalam pembuatan uang tersebut”.
Seluruh rakyat
setuju dan mengiyakan Tuan X. Segeralah saat itu setiap orang mendapatkan
pinjaman uang dari Tuan X dan digunakan dalam jual beli barang dagangan.
Awalnya mereka suka sekali bisa membeli apapun dan bisa mendapatkan barang yang
diinginkannya. Namun setelah satu tahun berlalu kini harus mengembalikan
pinjaman beserta tambahan 5%-nya.
Mereka yang
memiliki lebih dapat mengembalikan secara penuh beserta tambahannya. Sedangkan
mereka yang tidak memiliki banyak uang emas akhirnya tidak kuat bayar.
Masyarakat yang tidak banyak uang mulai merasakan pahitnya berhutang. Jaminan
mulai disita oleh Tuan X, rumah dan aset-aset lainnya mulailah diambil alih.
Kesimpulannya,
sistem barter memiliki banyak kelemahan dimana barang yang harus ditukarkan
memiliki nilai yang sama dengan barang yang dipertukarkan. Kelemahan tersebut
bisa diatasi dengan nilai kurs uang. Namun ternyata alat tukar ini
disalahgunakan dengan memakai bunga. Sistem bunga dengan cara mengembalikan
pinjaman beserta tambahannya merupakan langkah yang menguntungkan pihak pembuat
uang dan merugikan pihak peminjam.
3.3 Bunga
Sederhana
Simple interest, ialah
besarnya total bunga yang setiap tahunnya dihitung berdasar
investasi awal. Tidak dihitung atas bunga yang bertambah.
ƒ I = P.i.n
dimana,
I : Total bunga tunggal
P: Pinjaman awal
i : tingkat suku
bunga
n : periode pinjaman
ƒ Pembayaran yang harus dibayar pada akhir periode :
F = P + I
3.4 Bunga
Majemuk
Compound
interest: bunga setiap tahun dihitung berdasarkan
pada saldo tahun tersebut termasuk bunga yang bertambah.
Bunga Nominal
& Bunga Efektif
Contoh : suku
bunga 10% pertahun.Tetapi bunga pemajemukan lebih dari satu kali dalam
satu tahun
(misal
dimajemukan per 3 bulan).
maka
- Suku bunga 10% disebut “suku bunga nominal”. Notasi : r
- Dimajemukkan per 3 bulan 4 kali dalamsetahun. Notasi : m
- Suku bunga efektif = i
3.5 Konsep
Keekivalenan
Ekuivalensi berarti semua cara pembayaran yang
memiliki daya tarik yang sama bagi peminjam. Meskipun total pembayaran
kembali uang pinjaman berbeda menurut caranya, tetapi bisa ekuivalensi
satu sama lain merupakan konsep yang penting dalam ekonomi teknik.0000
Ekuivalensi
tergantung pada :
- Tingkat suku bunga
- Jumlah uang yang terlibat
- Waktu menerima dan / atau pengeluaran uang.
- Sifat yang berkaitan dengan pembayaran bunga terhadap modal yang ditanamkan dan modal awal yang diperoleh kembali.
Jika tingkat suku bunga konstan pada 10% untuk
cara pembayaran apapun, maka semua cara pembayaran tersebut ekuivalen.
Seseorang bisa secara bebas meminjam dan meminjamkan pada tingkat suku bunga
10%. Tidak ada bedanya pada pokok pinjaman dibayarkan dalam umur pinjaman atau
baru dibayar kembali.
Dengan suatu tingkat suku bunga yang sama,
dapat dikatakan bahwa setiap cara pembayaran di masa yang akan datang yang akan
melunasi sejumlah uang yang dipinjam saat ini adalah ekuivalen satu sama lain.
Ekuivalensi terjadi bila total bunga pinjaman yang dibayarkan dibagi total
pinjaman menghasilkan jumlah yang sama pada cara pembayaran mana saja.
3.6
Notasi dan Diagram/Tabel Arus Kas
Arus kas (cash flow) adalah aliran nilai atau
dana moneter (dollar) yang digunakan sebagai biaya (inputs) untuk menghasilkan
keutungan (output). Arus kas (cash flow) tersebut dihasilkan dari sebuah proyek
investasi. Cara termudah untuk pendekatan masalah-masalah dalam analisis
ekonomi adalah menggambar sebuah gambar atau diagram yang harus menunjukkan 3
hal, yaitu:
- Interval waktu yang dibagi ke dalam jumlah yang sesuai dari periode yang sama.
- Semua arus pengeluaran kas (deposito, pengeluaran, dll) dalam masing-masing periode.
- Semua arus pemasukan kas masuk (penarikan, pendapatan, dll) pada setiap periode.
Untuk menyederhanakan subjek pada analisis
ekonomi, ada beberapa simbol-simbol (notasi) yang diperkenalkan untuk mewakili
macam-macam arus kas dan faktor-faktor bunga. Berikut ini adalah simbol-simbol
yang digunakan:
P = nilai
atau jumlah mata uang pada waktu sekarang ($)
F = nilai atau jumlah mata uang pada waktu yang akan datang ($)
N = jumlah dari periode bunga
i = tingkat suku bunga per periode (%)
F = nilai atau jumlah mata uang pada waktu yang akan datang ($)
N = jumlah dari periode bunga
i = tingkat suku bunga per periode (%)
3. 7 Tidak Diketahui Nilai Awal,
Diketahui Nilai Akan Datang
Jika (1 + i)n dipindahkan ke ruas kanan diperoleh :
P = F (1+i)-n
P = Ekuivalen masa sekarang
F = Ekuivalen masa akan datang
i = Tingkat Bunga per Periode
Bentuk (1 + I)-n disebut Single Payment Present Worth
Factor (faktor nilai saat ini pembayaran tunggal), dan dapat ditulis dengan simbol fungsional (P/F,i,n) Besarnya (P/F,i,n)
untuk berbagai i dan n dapat dilihat pada tabel bunga.
Simbol fungsional
tersebut dibaca “cari P di mana F diketahui pada bunga i per periode
bunga untuk n periode bunga.” Perhatikan bahwa urutan dari P dan F dalam P/F
adalah sama seperti dalam bagian awal dari persamaan 4, di mana besaran yang
tidak diketahui, P, ditempatkan pada sisi sebelah kiri dari persamaan sedangkan
besaran yang diketahui F ditempatkan disebelah kanan persamaan.
3.8 Tidak Diketahui Nilai Seragam,
Diketahui Nilai Awal
Rumus bunga modal yang menghubungkan nilai P dan
F pada angsuran pembayaran seragam (A), Angsuran seragam (uniform
series) : suatu sistem pembayaran (pengembalian modal) yang dilakukan
setiap akhir periode, selama N periode dengan jumlah yang sama (A), pada
tingkat bunga modal i % per periode. Diagram arus kasnya adalah sebagai berikut :
Dari diagram
dapat dilihat bahwa pembayaran pertama dilakukan satu periode setelah pembayaran
P, dan nilai F terletak pada waktu yang sama dengan nilai terakhir dari A yaitu
N periode dari P.
Rumusnya :
2. Mencari nilai P jika diketahui
A
Rumusnya :
Rumusnya :
Rumusnya :
Rumusnya :
3.9 Tidak Diketahui Nilai Akan Datang,
Diketahui Nilai Awal
Jika suatu jumlah P rupiah ditanamkan pada suatu saat sekarang dan i
merupakan tingkat bunga per periode (keuntungan atau pertumbuhan), jumlahnya
akan meningkat dari sebesar P menjadi P+Pi = P(1+i) pada akhir periode
pertama; pada akhir dari dua periode besarnya akan meningkat menjadi
P(1+i)(1+i) = P(1+i)2 ; pada akhir dari tiga periode, besarnya akan
meningkat menjadi P(1+i)2 (1+i) = P(1+i)3; dan pada akhir
dari n periode jumlahnya akan meningkat menjadi :
F = P (1 +i)n
3.10 Gradient Seragam
Pembayaran yang
terjadi berkali-kali tiap tahun naik dengan kenaikan yang sama atau penurunan
yang secara seragam.
Kegunaan
Untuk pembayaran
per periode kadang-kadang tidak dilakukan dalam suatu seri pembayaran yang
besarnya sama tetapi dilakukakn dengan penambahan /pengurangan yang seragam
pada setiap akhir periode.
Rumus:
A = A1 + A2
A2
= G (1/i - n / (1 + i)n - 1)
= G (A/G, i, n)
Keterangan:
A = pembayaran per periode dalam
jumlah yang sama
A1 = pembayaran pada akhir periode
pertama
G = “Gradient” perubahan per periode
N = jumlah periode
Contoh:
Seorang pengusaha membayar
tagihan dalam jumlah yang sama per periode. Perubahan per periode dengan jumlah
uang sebesar Rp 30.000.000 selama 4
tahun. Dengan bunga sebesar 15 % per tahun. Berapa jumlah pembayaran pada akhir
tahun pertama?
Jawab:
A2 = G (A/G, i, n)
= Rp 30.000.000 (A/G, 15 %, 4)
= Rp 30.000.000 (0,5718)
= Rp 17.154.000
3.11 Suku Bunga Terhadap Waktu
Perubahan
tingkat suku bunga akan berdampak pada perubahan jumlah investasi di suatu
negara, baik yang berasal dari investor domestik maupun dari investor asing,
khususnya pada jenis invesatsi portfolio yang umunya berjangka pendek.
Perubahan tingkat suku bunga ini akan berpengaruh pada perubahan jumlah
permintaan dan penawaran di pasar uang domestik. Apabila dalam suatu negara
terjadi peningkatan aliran modal masuk (capital inflows) di luar negeri, hal
ini menyebabkan terjadinya perubahan nilai tukar mata uang negara tersebut
terhadap mata uang asing di pasar valuta asing (dalam Madura, 2000, p. 101).
Adapun pengertian suku bunga (interest
rate) (dalam Samuelson dan Nordaus, 1992, p.500 ):
a. Interest adalah pembayaran yang
dilakukan atas penggunaan sejumlah uang.
b. Interest rate adalah jumlah
interest yang dibayarkan per unit waktu atau orang harus membayar untuk
kesempatan meminjam uang.
c. Karakteristik pinjaman dari tingkat
suku bunga yang berbeda dapat dilihat dari :
1.
Term or Maturity
Merupakan jangka waktu atau jatuh
tempo, dimana mereka harus membayarnya.
2.
Risk
Beberapa pinjaman pada umumnya tidak
beresiko, sementara yang lain mengandung tingkat inflasi spekulasi yang tinggi.
3.
Liquidity
Aktiva dikatakan likuid apabila dapat
diubah dalam bentuk tunai (cash) secara cepat dan dengan kerugian nilai yang
sedikit pula.
4.
Administrative costs
Biaya administrasi yang dibebankan
pada para peminjam atas kelalaian dan urusan administrasi.
d. Suku bunga diskonto adalah tingkat
suku bunga yang dibayar oleh bank-bank umum apabila meminjam uang dari Bank
Sentral. Menurut Weston dan Copeland (1998, p. 184), suku bunga dalam
keseimbangan suatu pasar merupakan harga suatu waktu, dimana harga tersebut
adalah hasil pengembalian yang menyamakan pinjaman dan pemberian pinjaman dalam
kegiatan ekonomi. Suatu tingkat suku bunga akan cenderung naik apabila jumlah
uang lebih sedikit dan permintaan terhadap uang lebih banyak. Begitu pula
sebaliknya, tingkat suku akan cenderung turun apabila jumlah uang lebih
banyak/besar dan permintaan terhadap uang lebih sedikit.
Sedangkan teori paritas suku bunga
merupakan salah satu teori yang penting mengenai penentuan tingkat bunga dalam
sistem devisa bebas. Teori ini pada dasarnya bahwa tingkat bunga di suatu
negara akan cenderung sama dengan tingkat bunga di negara lain, setelah
diperhitungkan perkiraan laju depresiasi mata uang suatu negara dengan negara
lain. Berdasarkan Shapiro ( 1994, p. 164 ) bahwa yang dimaksud dengan Interest
Parity adalah suatu kondisi di mana perbedaan tingkat suku bunga sama dengan
perbedaan forward di pasar yang efisien dengan asumsi tidak ada biaya transaksi
(no transaction cost).
Tipe-tipe Suku Bunga
Ada 2 tipe suku bunga, yaitu :
1.
Real interest rate
Koreksi atas tingkat inflsi dan
didefinisikan sebagai nominal interest rate dikurangi dengan tingkat inflasi.
Real
rate = Nominal rate – Rate of inflation
2.
Nominal interest rate.
Tingkat suku bunga yang biasanya
tertera di rekening koran dimana mereka memberikan tingkat pengembalian untuk
setiap investasi yang dilakukan.
3.12 Tingkat Suku Bunga Nominal dan
Suku Bunga Efektif
1. Bunga
Nominal
Tarif
bunga sesungguhnya (actual) atau tarif bunga efektif sebesar 3%/6 bulan (compound each six month period), maka
tahunan atau bunga nominal dinilai sebagai bunga 6%/tahun yang digandakan tiap
½ tahun.
Bila periode pembayaran kurang dari 1
tahun : besar bunga efektif (1 tahun) > bunga nominalnya.
Contoh :
$1000 dengan bunga 3%/6bulan. Dalam 1
tahun menjadi :
F = $1000 x 1,03 x 1,03 = $1060,9
Maka, bunga efektif adalah 6,09%,
sedangkan bunga nominalnya adalah 6%.
Hubungan antara bunga efektif dan
bunga nominal adalah effective annual
interest rate :
Dengan : r = nominal
interest rate (6% à0.06)
c = banyak periode bunga per tahun
r/c = tarif bunga dengan periode c kali per tahun
Agar rumus-rumus bunga yang telah
dibicarakan (hubungan antara P, A, F, dan g) berlaku juga untuk bunga dengan
periode pembayaran kurang dari 1 tahun, maka :
Hitung dulu bunga efektif tahunan dari
bunga yang diperjanjikan (periode < 1 tahun). Kemudian bunga tersebut
dipakai dalam rumus yang diinginkan.
Contoh : P = $1000,6% compounded semi-annually. Berapa F
setelah 4 tahun?
Gunakan nilai bunga nominal dengan
periode < 1 tahun, namun periode pembayaran bunga dilipatkan menjadi n x c.
Contoh : F = $1000 x (1+0,03)8 = $1000
x (F/P 3,8) = $1000 x 1,267 = $ 126
Untuk membedakan bunga efektif dan
bunga nominal, untuk seterusnya digunakan :
i = bunga efektif
r = bunga nominal
2.
Bunga Efektif
Bunga
efektif adalah bunga yang dihitung berdasarkan perubahan aktual dari nilai awal
dan akhir sejumlah tertentu, atau dapat juga dihitung dengan menggunakan
pendekatan Time Value of Money dengan
mencari future value dari sejumlah
uang dengan tingkat bunga tertentu. Dimana rumus tersebut dapat dinyatakan
dengan :
FVn = (1+r)n x PV
Dimana :
FVn = Future Value setelah n tahun
PV
= Present Value
n
= Jangka waktu per tahun
r
= tingkat bunga per tahun
Sebagai contoh, jika FV adalah Rp. 169
Juta, PV adalah Rp. 100 Juta, n adalah 2 tahun, maka didapat nilai r = 30%.
Nilai r ini adalah bunga efektif per tahun dari nilai investasi tersebut.
Sistem
Bunga Efektif
Sistem
bunga efektif adalah porsi bunga dihitung berdasarkan pokok hutang tersisa.
Sehingga porsi bunga dan pokok dalam angsuran setiap bulan akan berbeda, meski
besaran angsuran per bulannya tetap sama. Sistem bunga efektif ini biasanya
diterapkan untuk pinjaman jangka panjang semisal KPR atau kredit investasi.
Dalam
sistem bunga efektif ini, porsi bunga di masa-masa awal kredit akan sangat
besar di dalam angsuran perbulannya, sehingga pokok hutang akan sangat sedikit
berkurang. Jika kita hendak melakukan pelunasan awal maka jumlah pokok hutang
akan masih sangat besar meski kita merasa telah membayar angsuran yang jika
ditotal jumlahnya cukup besar. Sistem bunga efektif akan lebih berguna untuk
pinjaman jangka panjang yang tidak buru-buru dilunasi di tengah jalan.
Metode
Efektif
Metode ini menghitung bunga yang harus
dibayar setiap bulan sesuai dengan saldo pokok pinjaman bulan sebelumnya. Rumus
perhitungan bunga adalah :
Bunga = SP x i x (30/360)
Dimana :
SP
= saldo pokok pinjaman bulan sebelumnya
i
= suku bunga per tahun, 30 = jumlah hari dalam 1 bulan, 360 = jumlah
hari dalam 1 tahun.
Bunga
efektif bulan 1
Rp 24.000.000 x 10% x (30 hari/360
hari) = Rp 200.000,00
Angsuran pokok dan bunga pada bulan 1
adalah :
Rp 1.000.000,00 + 200.000,00 = Rp
1.200.000,0
Bunga
efektif bulan 2
Rp 23.000.000,00 x 10% x (30 hari/360
hari) = Rp 191.666,67
Angsuran pokok dan bunga pada bulan 2
adalah
Rp 1.000.000,00 + 191.666,67 = Rp
1.191.666,67
Angsuran bulan kedua lebih kecil dari
angsuran bulan pertama. Demikian pula untuk bulan-bulan selanjutnya, besar
angsuran akan semakin menurun dari waktu ke waktu.
Sumber:
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/07/teori-struktur-modal-pengertian-dan.html
https://ekonomiteknik112081081.blogspot.com/2012/02/konsep-nilai-uang-terhadap-waktu.html?m=1
https://www.seputarforex.com/artikel/asalusul-bunga-bank-117083-31
http://yogandaruprahastowo.blogspot.com/2017/11/konsep-nilai-uang-terhadap-waktu.html
http://budi2one.blogspot.com/2013/11/analisis-ekivalensi.html
Sumber:
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/07/teori-struktur-modal-pengertian-dan.html
https://ekonomiteknik112081081.blogspot.com/2012/02/konsep-nilai-uang-terhadap-waktu.html?m=1
https://www.seputarforex.com/artikel/asalusul-bunga-bank-117083-31
http://yogandaruprahastowo.blogspot.com/2017/11/konsep-nilai-uang-terhadap-waktu.html
http://budi2one.blogspot.com/2013/11/analisis-ekivalensi.html

No comments:
Post a Comment